(foto: nu.or.id)

Proyek Kawasan Industri Terpadu Batang sudah dipastikan oleh Presiden. Kunjungan kerja Jokowi ke Desa Kedawung tempo hari menjadi sinyal kuat bahwa Presiden menginginkan proyek ini untuk segera direalisasikan. Mengingat proyek tersebut yang begitu sentral bagi pertumbuhan ekonomi khususnya di wilayah Batang.

Lahan seluas 4000 ha sudah disiapkan tanpa adanya pembebasan lahan. Pasalnya, tanah yang akan dieksekusi adalah milik PTPN IX yang notabene adalah milik pemerintah. Problem pembebasan lahan yang biasanya membutuhkan waktu yang lama kini bisa dipersingkat. Faktanya, lahan ini akan mengambil sebagian besar kawasan di pantai utara yang dikenal dengan Alas Roban. Kawasan yang telah menjadi identitas Batang selama berabad-abad.

Alas Roban dan Sejarah Kawasan

Alas Roban merupakan bagian dari legenda masyhur di kalangan masyarakat Batang. Seperti yang tertulis dalam website resmi Pemerintah Daerah, kisah ini bermula ketika pada sekitar awal abad ke 17. Saat itu pemerintahan Mataram berada di bawah kekuasaan Sultan Agung Hanyokrokusumo. Persiapan penyerangan Sultan untuk mengusir VOC yang berada di Batavia, menjadi awal mula pembabatan hutan yang dikenal dengan Alas Roban.

Pembukaan lahan ini ditugaskan oleh Sultan kepada Ki Ageng Bahurekso. Roban yang pada saat itu masih berupa hutan lebat akan diubah menjadi lahan persawahan, hal ini dilakukan untuk memeneuhi persediaan pasokan pangan prajurit Mataram yang akan berangkat ke Batavia.

Berbagai macam kendala dialami saat pembukaan lahan. Salah satunya adalah adanya kayu besar yang menghalangi. Hanya Ki Ageng Bahurekso yang mampu mengangkat batang pohon besar tersebut dan akhirnya menjadi cikal bakal nama Batang yang berasal dari “Ngembat” yang artinya mengangkat dan “Watang” yang artinya batang pohon.

Alas Roban; Dulu, Kini dan Nanti

Proyek Kawasan Industri Batang seolah menjadi pengulangan sejarah. Jika dulu pembukaan lahan Alas Roban memiliki motif perluasan lahan pertanian, kini Alas Roban kembali dibabat demi motif perluasan kawasan ekonomi. Perbedaan dari keduanya hanyalah tujuan akhirnya. Ki Bahurekso membuka hutan untuk dijadikan lahan persawahan, kini Jokowi akan membuka lahan untuk dijadikan kawasan industri.

Melihat kenyataan ini, penulis yang merupakan putra asli Batang sedikit menyayangkan dengan adanya kabijakan tersebut. Industrialisasi seakan menjadi harga mati untuk mngembangkan ekonomi. Padahal, ada potensi lain yang dimiliki oleh kawasan ini, sebut saja pariwisata. Sepanjang kawasan pantai utara Batang tak kurang dari pantai yang indah untuk dikunjungi, sebut saja Pantai Celong misalnya.

Belum genap rasa kekhawatiran masyarakat oleh bahaya yang akan ditimbulkan oleh Mega Proyek PLTU di kawasan pantai Ujung Negoro. Kini, masyarakat Batang kembali dihadapkan oleh bahaya yang akan ditimbulkan oleh Kawasan Industri Batang. Krisis ekologi, pencemaran lingkungan tentu menjadi momok tersendiri. Walau memang, tak juga menafikkan dampak positif terutama pengadaan lapangan kerja serta percepatan ekonomi. Namun, besar harapan kebijakan ini untuk kembali dikaji.

Membayangkan di masa depan, generasi penerus Batang selanjutnya mungkin tak akan lagi mengenal Alas Roban yang menjadi identitas wilayah. Hutan yang dulu hijau, lambat laun akan berganti dengan beton dan tiang-tiang penyangga. Riuh suara alam mungkin tak kan lagi terdengar, berganti dengan riuh gelegar suara mesin-mesin industri.

Bagaimana tidak? Setelah PLTU 2000MW, Tol Trans Jawa, kini Kawasan Industri. Lantas apa lagi ke depan yang akan kita hadapi? Kita sebagai masyarakat Batang hanya bisa duduk pasrah dan melihatnya tanpa bisa berupaya, karena toh itu juga percuma bukan? Mari kita ngopi saja sambil makan serabi Kalibeluk tentunya.

Penulis: Mahmud Yunus Musthofa, Putra asli Dukuhsari, Ds. Sembung, Kec. Banyuputih, Kab. Batang.

16 COMMENTS

    • siap pak Jabir. Ini dari Badan Semi Otonom Jurnalistik Forkombi lagi mengadakan Penerbitan Buku Bunga Rampai. Mungkin bapak minat utk ikut serta berkontribusi menuangkan pemikirannya di buku itu. 🙏

    • Betul sekali, gerakan intelektual sangat dibutuhkan, walau mungkin hanya sebagai pengingat karena hal yang semacam ini terkadang difahamai sebagai sebuah ganjalan.

  1. Yang saya harapkan bukan hanya tulisan, semoga ada realisasi tetap menjaga lingkungan dari pihak manapun yang membaca tulisan ini 😁

  2. Kenyataannya setiap perubahan memiliki dampak berupa untung dan rugi dan pasti akan ada sesuatu yg dikorbankan. Bagi pencinta lingkungan dan satwa (termasuk sejarah) , kebijakan ini tentu sangat merugikan, namun semua akan berbeda jika berkaitan dgn masalah ekonomi. Karena kalau uang dan kekuasaan sudah bicara, kita tidak bisa berbuat banyak.

    • Betul sekali kawan. Memang kita harus bijak menyikapinya agar tidak terkesan terlalunfanatik pada salah satu sisinya. Keseimbangan dibutuhkan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here